Rabu, 05 Desember 2012

INI HANYA FIKSI


Barbie. Hari ini aku bermain bersama Barbie. Kamu tau Barbie, kan? Itu lho, boneka yang menjadi figur ideal seorang wanita dewasa. Aku memang seorang seorang fans berat Barbie! Aku punya semua seri Barbie dan Ken. Bahkan walaupun aku sudah SMA, aku masih suka bermain Barbie! Ya, sosok yang sangat menginspirasi aku untuk menjadi remaja bertubuh sempurna seperti Barbie. Saat itu aku belum tahu bahwa sosok Barbie yang sempurna itu banyak membunuh para wanita yang tubuhnya ideal atau berusaha seideal Barbie dengan cara yang salah.

Oh ya, namaku Alice. Aku remaja kelas 3 SMA di salah satu sekolah unggulan di selatan Jakarta. Kalau kata mereka, sekolahku itu sekolah gaul! Hahaha. Bahkan aku termasuk the it girl di sekolah. Siapa yang nggak kenal aku? Alice Putri Hardjo, seorang cheerleader bertubuh seksi dan berparas cantik yang baru saja menjadi juara utama Olimpiade Matematika tingkat Internasional di Rusia. Aku juga seorang sekretaris umum OSIS saat duduk di tahun kedua. Kini aku sudah tahun ketiga, aku harus fokus mengejar kampus idamanku. Hahaha, aku memang si jenius yang eksis nan rupawan.

Banyak sekali laki-laki yang suka padaku dan ingin menjadi pacarku. Tapi, seksi-seksi begini, aku bukan cewek murahan¸ lho! Aku punya prinsip. Aku hanya akan punya pacar jika aku sudah mapan dan bekerja. Cowok yang mau jadi pacarku pun harus benar-benar serius dan sudah bervisi ke depan. Aku nggak mau jadi cewek yang menghambur-hamburkan uang orang tuaku, kecuali untuk membeli barbie, sih. Hehehe.

            “Alice, gue suka sama lo, mau ga lo jadi pacar gue?”
            “Alice, lo sebenernya lagi suka sama siapa, sih?”
            “Alice, gue suka sama lo dari kita masih SMP. Kenapa lo nggak pernah ngelirik gue?”
            “Alice, kalo gue lesbi mah, gue mau kali sama lo! Cantik banget, sih, luuuu!!!”
            “Alice, ini ada boneka Ken buatmu. Aku berharap aku bisa menjadi Ken bagimu”

Itu hanya segelintir dari beberapa permintaan dan gombalan dari mereka yang ingin mendekatiku. Simpel, aku hanya membalas, “Maaaaf, aku belum mau pacaraaan!” Hihihi. Wajar, jika sekarang aku hanya berteman dengan wanita. Aku nggak mau terlalu dekat dengan laki-laki. Bukan! Bukan karena aku lesbian! Tapi karena aku nggak mau mereka berakhir jatuh hati kepadaku. Aku bukannya gede rasa, tapi sebagian besar dari teman laki-lakiku pasti jatuh cinta kepadaku! Aku nggak mau menyakiti banyak hati pria. Jadi aku memilih untuk tidak terlalu dekat dengan mereka.

“Hey, gue pulang duluan ya, guys! Gue mau istirahat di rumah mumpung ga ada latihan cheers”, aku berpamitan kepada geng cewekku setelah bel sekolah berbunyi.

“Ah, cupu! Katanya mau pajamas party di rumah gue? Kita udah bawa baju, nih! Kalo nggak ada lo, kita cuma bisa delivery Mekdi!”, Silvi mengomentari. Ehm, sombong dikit nih ye, aku juga pintar masak, lho! Aku selalu menjadi koki setiap kali ada acara menginap. Mungkin karena kegiatanku banyak sekali, makan sebanyak apa pun, aku nggak akan jadi gendut! Lucky me!

“Yah, maaf deh.. gue capek berat, bro! Dari kemarin gue selalu latihan untuk persiapan lomba Sabtu besok di Senayan City. Anyway, lo semua pada dateng, kan?”

“Sudah, sudaaah. Lo istrihat aja gih, kasihan. Nanti kita berlima nginep di rumah Dhila. Kalo lo berubah pikiran dan bete di rumah, langsung ke rumah Dhila aja, ya! Besok kita dateng, kok. Tapi sebagai hukuman, lo harus traktir kita sushi!”, Kathya ini sebenarnya membelaku atau memojokkanku, sih?! Kok dia malah minta aku untuk mentraktik mereka!
         
   “Nah, ini gue suka!”
    “Setuju!”
    “Couldn’t agree more!”
          
Nah, sekarang Silvi, Dhila, dan Kania menyetujui usul Kathya untuk malakin aku. Emang mereka ini kerbau kelas kakap yang bisa makan berkilo-kilo makanan tanpa berubah jadi kerbau! Karena itulah kita cocok! Hahaha. Bahkan moto kami adalah ngumpul-ngumpul tanpa kuliner seperti berkumpul bareng onta!

“Ah, dasar ratu resek! Ya, pokoknya besok kalian nggak boleh telat ke sampai sana! Perlombaan mulai jam 13.00 dan gue ga tau nih gue tampil jam berapa. Gue duluan yaaa!! Besok lu bawa mobil ya, Dhil. Gue males bawa mobil”
          
  Gue selalu pulang-pergi sekolah naik angkot, lho. Mandiri, kan? Gue nggaksuka menghambur-hamburkan uang nyokap untuk hal yang nggak penting. Rumah gue itu terletak di bilangan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, sedangkan sekolah gue terletak di bilangan Bukit Duri, Jakarta Selatan. Jam pulang sekolahku itu jam 5 sore bertepatan dengan jam pulang kantor. Hari itu hari Jumat, lengkaplah sudah penderitaanku di jalanan yang macet dan angkot yang penuh sesak. Aku memilih untuk naik Metro Mini karena aku cukup membayar seribu rupiah karena pakai seragam sekolah. Hihihi, ini nih yang aku rindukan jika aku sudah kuliah!
           
 Aku berdiri di tengah Metro Mini sambil memperhatikan seorang lelaki yang berbadan cukup gempal yang duduk di depanku. Di sampingnya, ada seorang ibu-ibu yang tampak kesempitan. Sebenarnya lelaki itu cukup tampan. Dia memakai setelan yang menandakan bahwa posisi  di tempat Ia bekerja cukup tinggi. Tipe seorang lelaki mapan yang sudah siap berumah tangga. Sebenarnya aku tahu kalau lelaki ini ingin menggantikanku berdiri. Tapi apa daya, dia akan lebih memakan tempat jika harus berdiri.

            “Mas, permisi, mas. Saya mau turun, nih.” Ibu itu berkata pada mas-mas tambun di depanku yang duduk di sebelahnya.

            “Oh, sebentar, ya.” Lelaki itu membalas ucapan ibu itu sambil berusaha berdiri. Aku terdorong karenanya, orang-orang di sekitarku juga terdorong. Wah, pokoknya rempong banget, deh! Ibu itu sudah ga sabar ingin turun. Bahkan terus mendorong mas-mas tambun sambil sedikit berteriak, “Oi cepetan, dong! Rumah saya udah mau lewat, nih!”

            “Sabar, ibu, kaki saya terjepit di bangku ini dan nggak bisa keluar” Mas-mas tambun itu membalas dengan nada maklum. Mungkin ia sudah terbiasa dibentak seperti itu karena badan tambunnya. Aku dan penumpang lain sebenarnya sudah membuat jarak yang cukup lebar. Sangat lebar malah kalau yang lewat adalah orang-orang bertubuh normal.

“Ah! Kegendutan, sih kamu! Makanya punya badan jangan kegedan! Nyusahin orang kan jadinya! Harusnya kamu bayar buat 4 orang! Tuh lihat, semuanya jadi susah karena kamu! Rumah saya juga sudah lewat! Saya jadi harus jalan dulu! Tapi gapapa jalan kaki, biar nggak gembrot kayak kamu! Cepat minggir!” Bentakan ibu itu membuat mata para penumpang, termasuk supir dan kernet, tertuju pada lelaki tambun itu. Aku sangat yakin ada rasa malu luar biasa yang dia rasakan. Untungnya, kaki lelaki itu berhasil keluar dari jepitan antarbangku.

“Maaf, ibu. Saya memang besar. Tapi saya juga ingin diperlakukan seperti manusia pada umumnya yang tidak dihina seperti ini. Apa jadinya jika ada orang menghina Anda di muka umum? Pasti Anda akan selalu mengingat wajah si penghina, kan? Maaf, saya juga akan selalu mengingat wajah Anda” Lelaki itu memberikan jawaban yang luar biasa halus, tetapi menyakitkan. Aku melihat wajah ibu itu merah padam lalu ia segera turun dari bus itu.

Setelah ibu itu turun, lelaki tersebut berusaha untuk memasukkan kakinya lagi ke dalam ruang antarbangku. Berdasarkan teori keangkotan, orang yang selanjutnya duduk adalah orang yang yang berada persis di depan orang yang sebelumnya duduk. Well, it’s gonna be me. Dengan sabar, aku menunggunya untuk duduk sempurna di bangkunya sebelum aku duduk.

“Maaf atas kejadian tadi. Pasti kamu nggak biasa melihat yang seperti itu” Lelaki itu membuka pembicaraannya denganku. Aku memang ingin memecah kesunyian, tapi aku terlalu takut untuk memulai.

“Ah, gapapa. Malah aku yang nggak enak sama mas, mas gapapa? Jangan dimasukkan ke dalam hati, mas. Orang memang langsung kasar kalau ada orang yang menghalangi keinginannya. Menurutku, mas nggak gemuk kok, hanya sedikit di atas rata-rata. Bangku ini memang terlalu sempit. Aku juga agak susah memasukkan kakiku” Aku terpaksa berbohong untuk membesarkan hati lelaki tambun itu. Aku berpura-pura sulit memasukkan kaki saat aku duduk.

“Hahaha. Adik ga perlu berbohong. Tapi terima kasih sudah menghiburku. Namaku Yoga, kamu siapa?

Nggak bohong, kok! Aku Alice. Mas Yoga baru pulang kerja, ya? Kenapa mas nggak bawa kendaraan sendiri? Dilihat dari penampilan Mas Yoga, tampaknya Mas Yoga bukan orang yang serbakekurangan..”

“Hahaha, aku sedang memperbanyak aktivitas fisik untuk menurunkan berat badanku. Kalau aku naik kendaraan, kapan aku bergeraknya? Aku sadar aku membesar begini karena aku terlalu memanjakan diri dengan kendaraan pribadi. Asal kamu tahu, aku sudah turun 10 kilogram sejak 3 bulan lalu. Memang terhitung lambat, tapi aku mau ideal secara sehat!” Mas Yoga bercerita panjang lebar tentang keinginannya untuk mengidealkan berat badannya. Di saat orang lain terus terpuruk dengan ejekan orang, justru Mas Yoga menjadikan ejekan itu sebagai tantangan! Luar biasa.

“Wow, hebat! 10 kilogram? Hebat! Jadi, ejekan itu dijadikan motivasi, ya? Apa Mas Yoga nggak pernah merasa sakit hati?”

“Wah, bukan sakit hati lagi, Dik. Ibarat batu yang semakin hari semakin terkikis oleh tetesan air terjun. Memang kalau hanya setetes, batu tersebut tidak akan terkikis, tapi kalo airnya berkubik-kubik, akhirnya hancur juga, kan? Aku juga ingin membahagiakan istriku kelak dengan memberikan aku yang ideal” Ah! Ternyata Mas Yoga sudah punya calon istri! Padahal, di lubuk hatiku yang terdalam, aku sangat kagum padanya. Aku sangat kagum terhadap pendirian dan kegigihannya.

“Cieee, sudah punya calon istri, nih? Hehehehe, sakit hati deh gue! Hahahaa bercanda, mas! Sungguh! Please, jangan anggap saya cewek murahan! Justru saya cupu, udah kelas 3 SMA, tapi belum pernah pacaran! Hahahaha” Oh My God! Gue ngomong apa, sih??? Ini mah namanya menjatuhkan diri sendiri! Aku terus menyalahkan diri sendiri karena berkata seperti itu.

“Hahaha, aku belum punya pacar. Aku nggak mau menikah dengan orang yang dulu menghinaku saat gemuk, tapi mendekatiku saat aku sudah mulai berotot. Sebentar lagi bahkan aku punya sixpacks! Hahahaha. Orang-orang seperti itu munafik. Padahal aku nggak akan selamanya berotot, mereka juga nggak akan selamanya seksi dan menarik. Apalagi jika mereka sudah melahirkan. Apa para suami yang istrinya membesar setelah melahirkan lantas meninggalkan mereka? Justru lelaki yang sempurna adalah mereka yang menerima apapun kondisi pasangannya” GOSH! Jawaban Mas Yoga melelehkan hatiku yang berprinsip tidak akan punya pacar! Saat itu juga, aku merasakan sesuatu. Cinta? Mungkin. Apakah dia adalah Ken untukku?

“Ooooooo so sweet! Mau dong jadi pacar Mas Yoga! Hahahaha”

Beneran?” Uhuk! Is he serious?

“Bener! Hahahaha” Oh, damn! What have you said, stupid?!?!

“Oke, mulai sekarang aku beneran ngedeketin kamu, ya. Aku serius..”

“Ha?”

“Kamu itu unik. You don’t judge me for who I was, you even support me to do better than before. Aku bahkan suka ketika kamu menungguku yang sedang bersusah payah masuk ke bangku resek ini. Mungkin orang bilang ini aku alay karena ngajak cewek kenalan di dalam angkot. But, so what? Toh kita berkenalan dengan cara yang sama sekali nggak alay.” Dia mengakhiri kalimatnya dengan senyuman terindah yang pernah aku lihat! Dengan kedua pipi yang masih chubby, dia terlihat lucuuuuuuuuuuuuuuuuu sekali. He seems like smiling from ear to ear!

Are you serious?”

A hundred percents, if you do

“...............”

“Yooo, terakhir, terakhir, terakhir! Pondok Kelapa, terakhir, terakhir!” Suara kernet yang membahana menyadarkan para penumpang yang sedang tidur, yang sedang mengobrol, atau yang memang turun di pemberhentian terakhir.

“HAH?! OH MY GOD! Rumah gue kelewatan, baaang!!!! Kok gue ga dikasih tau, siiiih??? Jahat lu, bang! Bales dendam sama gue, ya?” Aku seketika berteriak ke Bang Udi, si kernet Metro Mini yang sangat aku kenal. Percaya, nggak? Dia juga suka padaku, tapi kutolak cinta abang kernet itu! Hehehehe. Makanya, kupikir dia membalas sakit hatinya dengan tidak memberitahu bahwa rumahku sudah terlewat!

“Yeeee, lagian lu serius banget ngobrolnya. Gue jadi nggak enak, takut mengganggu. Cewek cantik emang susah, deh. Tuh, si cowok gembrot itu aja sampai bengong ngeliat lu!” Bang Udi sinis banget menanggapi kami yang asyik mengobrol!

“Yeee, bilang aja iri lu! Kepengen banget ngobrol sama gua? Hahaha!” Aku membalas sekenanya saja kepada Bang Udi. Lalu aku mengajak Mas Yoga untuk turun dari Metro Mini, “Ayo turun, mas! Mau gantiin Bang Udi ngernet? Hahahaha.”

“Aku mana bisa turun kalau kamu nggak turun....” Mas Yoga menjawab dengan memelas. Oh iya!

“Beruntunglah kalau lu sampe ngedapetin Alice. Banyak banget yang mau sama dia. Bahkan gue pernah bela-belain minjem kemeja bagus ke temen gua cuma buat nyamperin dia ke rumahnya! Mana gua disuruh bayar lagi, sepuluh rebu sehari. Gua seriusan suka sama dia. Tapi, dia nolak gua. Hiks hiks. Akhirnya dari tadi gua cuma bisa memandang dia dari pintu angkot resek ini...” Entah kenapa Bang Udi ngomong seperti itu ke Mas Yoga seakan-akan aku dan Mas Yoga akan berakhir bersama.

“Hahaha, tenang aja, bang. Gue akan selalu ngejagain dia. Lo nggak liat nih badan gua kayak Ade Rai dipompa Nitrogen begini?” Mas Yoga membalas dengan bahasa yang sudah disesuaikan dengan tingkat kegaulan Bang Udi.

“Wahahaha! Oke, deh, ati-ati, ya! Mau narik lagi nih!” Bang Udi lalu pergi lagi bersama Metro Mini yang disupiri oleh ayahnya itu. Aku dan Mas Yoga pun melambaikan tangan ke arahnya.

So? What do you think? Can I be someone who’s trying to get you? I know you’re just a third grade high school student and I’m a 25th years old man. But, i’ll be right here waiting as long as you want me to wait for you. It’s hard for me to fall in love, but when it’s the time, i’ll never let her go..

I’ll be having my last cheerleading competition tomorrow at Senayan City. The competition will be started at 1 pm, but i don’t know my team will perform in what order. Come and see me there, if you really want me to be right beside you. I wanna go home now to take some rest now. Don’t walk before me, i may not follow. Don’t walk behind me, i may be mad at you and won’t look back anyomore. Just be there, right beside me

Aku langsung pergi meninggalkan dia dengan hati berbunga-bunga. Selera gue emang cowok yang udah mapan kali, ya? Tapi, rasanya bukan. Bukan karena itu aku suka sama dia. Lelaki tambun itu sudah mengambil hatiku, si seksi yang rupawan ini. Aku sekarang hanya bisa berdoa dan berharap semoga dia besok ada untukku. Kita sama sekali nggak bertukar nomor telepon! Semoga dia besok benar-benar ada di sana, Tuhaaan!! Aku iseng membalikkan badanku untuk melihat apakah dia tetap di sana menatapku dari kejauhan atau bahkan mengikutiku. Jeng! Ternyata dia sudah tidak ada di tempat! Mungkin memang dia turun di pemberhentian terakhir karena rumahnya tidak jauh dari situ. Huh, ada perasaan menyesal kenapa aku jual mahal bangeeeet!! Bodoh, bodoh, bodoh!

Keesokan harinya, aku dan rombongan sampai di Senayan City pukul 10.00. Kita bersiap-siap di backstage yang disediakan oleh pihak penyelenggara. Ada sekitar 20 tim yang akan tampil di acara Jakarta Cheerleading Competition ini. Bagiku, ini adalah perlombaan terakhir karena aku harus menyerahkan karir ini demi masa depan yang lebih baik. Sedih sih, tapi ini keharusan. 20 kelompok tersebut diundi untuk menentukan urutan tampil dan ternyata timku tampil nomor 1! Sejujurnya, tim ini tidak terkalahkan sih. Kami hampir selalu memenangkan semua aja cheerleading. Bagaimana tidak? Teknik dan gerakan kami ini standar internasional! Bahkan semua orang harus menguasai teknik saat jadi flyer maupun jadi base. Hanya satu yang kutakutkan, Mas Yoga tidak akan sempat melihatku berlomba.

Harusnya kemarin aku jangan bilang lombanya mulai jam 1! Ah! Aku mulai menghukum diriku sendiri atas kebodohan dan kejualmahalan ini. Waktu menunjukkan pukul 12.30 ketika aku mendengar teriakan, “Aliceeeeeeee!!!! Uuuuu cemungudh yah cayang akoooo. Kita cemua menjukung kamooooo. Cuuuuupsss!!!” Ah! Itu hanya teman-temanku yang menyemangatiku dengan bahasa bayi! Tapi gapapa, kehadiran kelima sahabatku itu cukup mencairkan ketegangan yang kurasakan. Meskipun aku tetap mengharapkan kehadiran Mas Yoga di antara kerumunan pengujung Senayan City.

“Aaaaa maacih yaaa ­cinta-cintakuuuuuu!!! Aku tampil di urutan pertama, nih! Kalian pokoknya harus ngeliat gue, teriak-teriakan, ikutan nyanyiin ­yel-yel di baris terdepan penonton!”

“SIAAAAAAAAAAAAP!!!!!!” Sahut mereka bersamaan. Uh, emang deh mereka sahabat nomor satu di dunia! Nggak ada yang bisa ngalahin kegilaan jika kami sudah berkumpul! Mereka langsung ke baris penonton untuk sikut-sikutan dengan penonton yang lain yang sudah dari tadi memadati barisan terdepan. Mereka memang orang gila semua! Aku langsung membalikkan badan untuk melakukan blocking panggung dengan teman satu tim ketika ada suara yang baru aku kenal kemarin memanggilku dari belakang.

“Alice..”

Ibarat katak merindukan rawa, aku rasanya ingin segera lompat-lompat kegirangan! Mas Yoga! Itu Mas Yoga!! “Eh, Mas Yoga. You’re really here..” Mungkin merahnya tomat mengalahkan rona wajahku, seperti ada  anak kecil mewarnai wajah ini dengan krayon! Bagaimana tidak? Dia memenuhi janjinya! Dia terlihat sangat tampan dengan balutan celana chino berwarna khaki dan kemeja berwarna biru denim. Simpel, tapi kesannya sangat berbeda dengan setelan kantornya yang menandakan bahwa ia orang ‘tinggi’. Gemuk? Sama sekali tidak!

So, what’s your answer? Am I qualified to be your boy friend?”

Boyfriend?”

Yet, as a start, it’s a boy friend, with a space. If you dont mind

More than qualified! See you, then. I’m kinda busy right now..”

Okay, good luck! You’ll already be the winner for me

You, too.

Dia datang. Dia serius. Dia benar-benar datang ke sini untuk mengejarku. Saat itu juga aku mendapatkan semangat tambahan untuk menghadirkan penampilan cheerleading  yang terakhir dan terbaik sepanjang karir menariku.

1..2..3

“LET’S GO!”

Selasa, 13 November 2012

TRAIN YOURSELF WITH US!

Hey, guys! Analitico is on the way to hold the other trainings of 2012, yeay!
We're here to provide you some of the statistical training. After succeded in the first training, which is SPSS-used training, now we're heading to provide training for STATA and EpiInfo. Almost the same as SPSS, STATA and EpiInfo are two of some statistical softwares that can be used to make data management & analysis easier. Of course, although they are quite the same function, each of them has sort of special aspects that diferentiate between one another. Therefore, we are bridging you to get closer to what they are like! ;)

STATA TRAINING

Date
Session 1 (planning technique) --> Des, 17-18 
Session 2 (management and analysis of survey data) --> Des, 19-20
Session 3 (analysis of survey data) --> Des, 20-21
Investment
Bachelor degree student: Rp350.000,00/session
Master degree student: Rp500.000,00/session
Doctoral degree student: Rp750.000,00/session
Public: Rp1.500.000,00/session

EPIINFO7 TRAINING


Date
Session 1 (planning technique) --> Des, 20
Session 2 (management and analysis of survey data) --> Des, 21
Session 3 (analysis of survey data) --> Des, 22
Investment
Diploma/bachelor degree student: Rp350.000,00/all sessions
Master degree student: Rp600.000,00/all sessions
Doctoral degree student: Rp750.000,00/all sessions
Public: Rp900.000,00/all sessions

Who'll be the trainers?
The team teachers from Department Biostatistics and Population Studies, Faculty of Public Health, University of Indonesia

Where's the venue?
Faculty of Public Health, University off Indonesia

What will the trainees get?
Certificate with SKP, lunch, goody bag, EPIINFO7 software, & module.
Attention, STATA software is not given.

How long will it take?
For STATA: 2 days/session
For EPIINFO7: 1 day/session

How to self-register?
1. Download & fulfill the form that can be found here on Analitico UI's website
2. Transfer the investment fee to:
- BNI University of Indonesia at 0067984984, on behalf of FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS INDONESIA
- The investment fee has to be transferred at least a week before the due date
- The transfer token can be sent by email, fax, or confirming to the contact persons

NOTE
The trainees are they who already transfer the investment fee. There will not be a refund if the trainees are cancelling.

FOR MORE INFORMATION
Twitter: @analiticoUI
Facebook: Analitico Ui
Contact Person: Tika 0857 1910 6108

Senin, 05 November 2012

Ini Karya Terakhirnya..

Hari itu hujan deras di daerah Baturraden. Rombongan mahasiswa kedokteran muslim Indonesia sedang asyik mengikuti city tour setelah menghadiri seminar nasional di Unsoed. Tidak yang menyangka, ketika mereka sedang asyik menikmati pemandangan kota, tiba-tiba musibah menimpa mereka.

Sejak awal sang supir dan kernet bus PO Raharjo sudah menyadari bahwa rem bus blong, angin rem tidak ada. Bahkan sang kernet sudah meminta para mahasiswa untuk selalu istigfar dan berzikir. Para mahasiswa pun bingung kenapa sang kernet berkata seperti itu tanpa tau yang terjadi. Hingga akhirnya kecelakaan pun tidak dapat terhindari, ditambah lagi dengan kondisi jalanan yang basah karena hujan. Singkat cerita, kecelakaan tersebut menewaskan 6 orang, 2 orang mahasiswa, 1 supir bus, dan 3 penduduk setempat. 

Liputan beritanya bisa dilihat di sini dan di sini

Kecelakaan itu menimbulkan kisah miris. Salah seorang mahasiswi FK Undip yang meninggal adalah Esti Nuha Ilmazakia. Kedua orang tua beliau sedang melaksanakan perintah Allah yang kelima di tanah suci Mekah dan baru pulang tanggal 20. Bahkan, pihak keluarga diberitahu via Twitter setelah beberapa Sahabat Esti dan pihak panitia mencari akun keluarga Esti dari timeline Tiwitter-nya. Kedua orang tuanya pun baru bisa dihubungi sekitar pukul 04.00 WIB keesokan harinya. Orang tuanya tidak kuat menahan tangis dan teriakan setelah dikabarkan calon dokternya telah kembali ke hadapan-Nya.

Tapi bukan itu yang mau gue bahas. Yang mau gue bahas adalah post terakhir dalam blog milik Novilia Lutfiah Khoiriah, mahasiswi FK Undip yang juga menjadi korban meninggal. Post terakhir yang berjudul DOSEN TAK BERNYAWA itu seakan menjadi peringatan bahwa, "Hey! Suatu saat kamu pasti akan merasakan sakaratul maut!"

Berikut adalah isi dari post tersebut. Selamat menghayati dan meresapi..

========================================================================

“Manusia berawal dari setetes air mani yang hina
Berakhir menjadi seonggok daging yang membusuk
Dan saat ini berada diantara keduanya dengan membawa kotoran kemana-mana”
-Salim A. Fillah- “Dalam Dekapan Ukhuwah”

Kematian  merupakan salah satu topik yang sangat dihindari oleh kebanyakan orang, apalagi kita yang masih muda-muda. Sukar dimulai dan mudah untuk dihentikan. Padahal setiap manusia tak akan pernah tahu waktu kedatangannya. Kematian tak akan memandang umur, tua muda akan mati bila waktunya memang telah tiba.
Setiap kali memasuki ruangan praktikum anatomi jantungku selalu berdesir miris. Seonggok tubuh yang terbujur kaku dengan bentuk yang sudah tak beraturan dan tak “manusiawi” menjadi pemandangan yang selalu ditemui setiap minggunya. Melawan  kodrat alam, dipaksa tak membusuk dengan formalin. Tubuh-tubuh yang dulunya selalu dibanggakan, tegap, gagah, langsing dan sebagainya yang menjadi pemicu dosa bila tak digunakan dalam koridor syariat-Nya.
Untuk melawan rasa takut, hal pertama yang aku perhatikan saat menghadapi cadaver adalah wajahnya. Walaupun tetap bergidik merinding melihat otot-otot wajah yang menegang saat sakaratul maut. Tergambar jelas kesakitan yang dirasakan saat  detik-detik malaikat Izrail menjemput. Bahkan manusia termulia, dengan pengambilan ruh yang benar-benar pelan dan lembut  saja merasakan sakit yang benar-benar sakit. Apalagi kita, yang sadar akan siksa neraka namun tetap rutin berbuat dosa.
Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut.
Seringkali  tak teganya rasanya membuka lapisan demi lapisan  kulit mereka, menarik-narik otot untuk mencari perlekatannya, mengorek-ngorek menemukan pembuluh darah serta syaraf yang letaknya tersembunyi dan lain-lain. “ Ini dulunya juga manusia Nov, sama sepertimu,  maka perlakukanlah dengan baik dan lembut”, ucapku pada diri sendiri.
Perasaan jijik juga sering mendatangi, bersyukur pada Allah yang memberikan rasa lupa pada manusia. Sehingga aku dan teman-teman masih bisa makan walaupun baru saja memegang dan berkutat dengan cadaver menggunakan tangan kosong, setelah cuci tangan tentunya.
Laboratorium anatomi dan seluruh mayat-mayat  didalamnya selalu mengingatkanku akan datangnya kematian yang tak tahu kapan akan menjemputku. Mereka  adalah guru-guruku, guru dunia karena mengajarkan banyak ilmu pengetahuan serta guru akhirat yang menjadi reminder akan kehidupan dunia yang sementara ini.
Mayat-mayat yang tak jelas asal usulnya, tunawisma, preman dengan tato-tato di tubuhnya dan entah siapa itu tak pernah mengharapkan tubuhnya disayat-sayat dan dipotong-potong menjadi media pembelajaran kami. Semasa hidupnya mereka pasti mengharapkan mayatnya kelak diurus sewajarnya. Dimandikan, disholatkan, dikafani, dimakamkan, dan didoakan oleh keluarga. Pantas atau tidak mereka bisa disebut orang-orang yang tidak beruntung.
Salah seorang temanku pernah bertanya “Apa dosa-dosa mereka bisa tergugurkan ya? Secara fisik mereka adalah preman yang tak pernah kita tahu amal ibadahnya, dan dilihat dari niat mereka tak pernah berharap jadi media praktikum.”
“Hanya Allah yang tahu, tugas kitalah selalu berdoa agar dosa-dosa mereka diampuni melalui setiap sentuhan dan perlakuan yang kita berikan pada mereka” ucapku menutup pembicaraan seusai praktikum bebas malam itu.
Ya Allah, siapapun mereka, ampunilah dosa-dosa mereka
Jadikanlah setiap perlakuan yang kami berikan sebagai penggugur dosa mereka
Terimalah setiap amal ibadah mereka semasa hidup dulu
Gantikanlah liang lahat mereka dengan rumah-rumah surga-Mu
Gantilah kain kafan mereka dengan baju-baju kebesaran penghuni surga
Sayangilah mereka
Karena mereka kami mengenal ilmu-ilmu Mu
Karena mereka kami menjadi orang yang bersyukur
Dan karena mereka, kelak kami bisa menolong hamba-hamba Mu

Jumat, 19 Oktober 2012

PARTISIPATORY ACTION RESEARCH

Alohaaaa~
Ya Tuhan, sudah lama sekali saya tidak menulis di blog! Hahaha galau maksimal deh sampe ga sempet nge-blog! Ngga deng, sibuk banget sih jadinya ya gitu belom sempeeet!

Kali ini gue mau cerita tentang selalu aktivitas selama gue menjadi anak magang di Centra Mitra Muda, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (CMM-PKBI). CMM-PKBI adalah sebuah youth center dalam divisi anak dan remaja pada kepengerusan PKBI di wilayah DKI-Jakarta. Dengan prinsip dari dan untuk remaja, CMM mempunyai visi untuk meningkatkan status kesehatan reproduksi dan seksualitas serta menjadi pusat rujukan informasi, pendidikan, dan layanan kesehatan reproduksi dan seksualitas bagi remaja di wilayah DKI Jakarta. Salah satu kegiatannya adalah Partisipatory Action Research (PAR).

======================================================================

PAR adalah program kerja sama antara KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) dan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta untuk mengembangkan pengetahuan remaja usia SMA di DKI Jakarta dan Kepulauan Seribu mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas sehingga mereka bisa menjadi agen perubahan untuk mendiseminasikan pengetahuannya kepada teman-temannya, menghentikan laju penyebaran HIV dan bisa menjadi peer educator di sekolahnya. PAR ke-4 ini dilaksanain tgl 16-19 Oktober 2012 dan diikuti oleh 109 siswa dari puluhan sekolah menengah sederajat SMA di seluruh DKI Jakarta dan Kepulauan Seribu. CMM dipercaya oleh KPA dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk menjadi EO dalam acara ini.

Well, gue mungkin ga bakalan nyeritain materinya yaa. Bosen jugak kali bok! Jadi gue mau nyeritain kesan dan pesan gue azah yaa gyahahahaha. 

Jadi gue ditunjuk untuk menjadi co-fasilitator di kelompok C yang terdiri dari 35 orang dari 35 sekolah yang berbeda dan dari berbagai latar belakang serta sifat yang berbeda pulak. Emang pada dasarnya gue orang yg mayan cucah bercocialicaci cih ya, jadinya hari pertama (isinya full materi & sometimes i see the boredom & the sleepyhead of them! HAHA) gue hanya jadi notulensi yang baik hati dan tidak sombong. Gue palingan ngebantu Kak Martha dan Mas Hendra yang jadi partner gue dalam meng-handle kelas itu. Well, that far, hari pertama bisa dibilang gue MAGABUT! Hahahahaha kasian ya anak-anak kelompok C soalnya gue belom makzimal!

Nah, hari kedua nih gue udah mulai PANAZ! Hari kedua ini hari terserunya PAR menurut gue! Hhahaha. Dimulai dengan materi terakhir tentang komunikasi efektif, setelah itu kita semua ikut outbond! Walopun otbonnye kage jelas, nyang penting zeru! :D
Jadi kelompok C ini dipisah menjadi dua kelompok, C1 dan C2. Nah gue mendampingi mereka selama permainan ini. Yah ibaratnya, di sinilah mereka melihat seberapa RUSAKnya fasil mereka (baca: gue)! Hahaha.

Kita seseruan bareng, panas-panasan bareng, lelarian bareng, protes bareng, kesel bareng, bikin yel-yel yang memplesetkan dari yel-yel fakultas tercinta gueFKM UI (a credit to BEM FKM UI, especially for Clara Gizi UI 2009). Gue mengubahnya jadi begini GO, KLOMPOK C! GO GO, KLOMPOK C! AAW! GO, GO KLOMPOK C! AAW! Dengan suara AAW yang melengking seperti para cheerleaders hehe. Otbon berakhir di kolam renang. Seru banget deh karna setelah acara selesai, ternyata si fasil kece ARA KOSWARA nyetel lagu Gangnam Style. Jadilah kolam renang Indoor itu berubah menjadi diskotik dadakan dengan ratusan orang saling dorong-mendorong ke dalem kolam. Gue pun menjadi bulan-bulanan anak klompok C dengan dimasukkin ke kolam berkali-kali! MAKASIH YA DEK! MAKASIH BANGET! Hahahahaha.







Setelah seseruan di otbon, saatnya kita mempersiapkan dulu untuk malam ekspresi! Nah di sinilah inti dari kekompakkan (atau kehokian?) Kelompok C! Padahal kita ngerancang dramanya itu cuma 1 jam, belom sempet rehearsal, blocking dan sebagainya! Gue aja sempet pesimis kalo Kelompok C bakalan gatot alias gagal total. Memang ga semua terlibat sih, ada beberapa siswa yang dieeeeeeeeeeem aja kerjaannya padahal udah gue semangatin, gue ajak ngobrol, gue sapa terus, eee tapi tetep aja. Kita juga sempet Dance4Life bareng sekelas, nyanyi bareng, belajar shuffle dance, bikin properti drama biar kocak, dsb. Kekeluargaan banget nih saat di sini. Bahkan kita terkurung hujan dan ga bisa balik ke ruang utama. 

Well, ready or not the show must go on! Akhirnya setelah briefing yang syuper dyuper brief dan berdoa sebelum masuk ruang utama, kita dengan pede dan riang gembira masuk tuh! Buahahahaha pake segala nge-dance gajebo -_-

Ohya secara umum, yelyel Kelompok C tuh kayak gini:
(Pake lagu Cucok Rowo) 
Klompok C 3x
Klompok gue yang paling kece
Fail-fasilnya oke
Anak-anaknya rame
Kalo bergaye, duh aduh gile~
Go! Klompok C!
Go, go, Klompok C!
AAW!

Go! Klompok C!
Go, go, Klompok C!
AAW!

Akhirnya tiba saatnya penampilan Klompok C setelah sebelumnya ada penampilan dari Klompok A. Deg-deg zer ruar biaza boooooooooooookkkk!!!! But, GUESS WHAT?! THEY DID A SUPER GREAT JOB! Jalan ceritanya sangat masuk akal, sesuai dengan materi, penampilan para talent yang sangat all-out dan improvisasi tinggi, serta ending yang sangat solutif! Gue bahkan sampe nangis ngeliat akting anak-anak gue dooong!! Bahkan katanya gue yang lebih heboh dibandingkan mereka! Gue terharu berat! Gue mau ucapin THANKS BANGET buat ketua kelas Fahmi, sutradara Murni, 3 talent utama (Rista, Adrian, dan Yoga), para talent teler (Wildan, dll -lupa-maap), para dancer (Bachtiar, Agni, dan Fahmi), para entertainer (Ola, Fahmi, Aghni, dsb), para pengatur blocking, POKOKNYA SEMUA! Atas idenya yang luar biasa spektakuler. Satu hal yang perlu kalian tau: gue bener-bener nangis. Nangis terharu! ;")







The tears of happiness!

Setelah mempertunjukkan zezuatu yang zangat menghibur, akhirnya kita masuk ke hari ketiga. Inti dari acara hari ketiga adalah pembuatan RTL (rancangan tindak lanjut) di mana para siswa diminta untuk menuliskan apa yang akan mereka lakukan setelah keluar dari pelatihan ini, pembacaan pemenang, dan penutupan. Nah, yang ditunggu-tunggu datang juga nih, PEMBACAAN PEMENANG! Selamat kepada Yoga dari SMA 6 yang telah menjadi peserta terbaik dari Kelompok C. Gue dan Kak Martha memilih dengan sangat obyektif kok jadi tenang saja! Walopun Yoga belum berhasil jadi peserta terbaik umum, it's not a problem! ;)
Outbond ga ada yang menang dan kalah gara-gara banyak kesalahan teknis dan kecurangan di sana-sini, akhirnya semua kelompok 'dianggap' sebagai pemenang hahaha. Fair enough. Lalu, peningkatan nilai tertinggi diraih oleh Yusmadi dari madrasah manaaa gitu hehe. Paling tinggi seangkatan malah karena nilainya naik 30 poin, dari 50 menjadi 80.
Nah, kategori yang ditunggu-tunggu nih, yaitu kategori malam ekspres terbaik! Juara yang pertama kali disebutkan adalah  kelompok B. Begitu MC membacakan juara pertama malam ekspresi adalah kelompok C, sorak sorai AAAAAAAAAAAAAAAAWWW!!! sangat menggelgar di ruang besar! Haahahahah. Emang deh anak gue yang paling keren kaaaaan!! :D

=======================================================================

Well, sebenernya ceritanya ga se-brief itu. Kita juga cerita-cerita kok, tentang masa lalu, tips-tips, ini, itu, dan sebagainya. Tapi terlalu istimewa rasanya kalau harus tertulis di sini. Biarlah itu menjadi memori di ingatan masing-masing. Kita juga masih bisa keep in touch dengan mereka via Twitter, SMS, BBM, email, telepon, dsb. Bahkan ada beberapa anak yang masiiiih SMSan dan BBMan sama gue sejak pulang dari Griya Astoeti! Hahaha. Keep communicating ya guys!
#hazek

I LOVE #PAR4, BUT I LOVE KLOMPOK C MORE! :D






























TERIMA KASIH BANYAK KELOMPOK C YANG NAMANYA TIDAK BISA DISEBUT SATU PERSATU. SEMOGA KITA BISA BERTEMU LAGI. AAMIIN YA ALLAH.
WE ARE AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAWWW! :D


Closing Statement:
TUH KAN, ANAK 6 DAN 70 BISA AKUR DAN KOMPAK KAN! :")